Minggu, 12 Januari 2014

Matursuwun Surabaya !

       Hanya kata2 seperti judul diatas yang bisa saya ucapkan pada saat Ibu Nanik selaku Kajur Informatika ITS maju ke depan panggung dan Bapak Dekan Agus Zaenal Arifin memanggil nama saya untuk menerima ijazah pada tanggal 22 September 2013. Penantian yang cukup lama (5 tahun) untuk mendapatkan surat resmi tanda selesai mengenyam pendidikan S1. Apa saya harus melenguh sembari mengeluh atas waktu belajar saya yang cukup lama ? Tidak, puja dan puji syukur tetap saya panjatkan karena masih banyak kawan2 yg punya masa studi lebih lama, atau bahkan tidak bisa mencicipi bangku perkuliahan.
Undangan Lintas Waktu (2008-2013)

        Namun bukan itu intinya, intinya adalah terimakasih kepada sang penguasa jagad raya atas kesempatan yang diberikan kepada saya khususnya dan teman2 saya dari seluruh penjuru INDONESIA untuk saling mengenal, belajar, tertawa, melakukan hal2 bodoh sampai berfikir untuk bangsa disaat yang sama :p. Surabaya tempat kami saling mengenal, saling merasakan keterasingan, saling jumawa membawa nama daerah dan sekolah. Tapi itu semua apa daya ketika kita bersama-sama masuk ke almamater yang sama, ITS Surabaya.
Wisuda 107 ITS
        Kami perantau dari penjuru nusantara membawa beberapa hal ketika menginjakkan kaki di Surabaya, ketakutan, kesendirian, kekhawatiran yang kurang lebih sama penyebabnya....jauh dari orang tua, rumah, dan lingkungan sekitar tempat kita tumbuh. Entah apa yang akan kami lakukan pada masa awal kuliah, pertengahan kuliah & sampai lulus nantinya, awal mula yang kita pegang kurang lebih adalah restu orang tua dan doa.
        Beruntung kami masuk kampus berbasis teknik, jadi kurang lebih dikenal dengan sebutan anak teknik, yang dimata orang awam terkenal dengan masa studinya yang lama dan kekompakkan antar mahasiswanya yang terbilang erat :p. Merantau, mau dekat antara sidoarjo-surabaya ataupun aceh-surabaya yang jauh tetaplah merantau. Yang dekat jaraknya mungkin pikirannya yang merantau, bisa jadi mereka juga merasa kehilangan saat kembali kerumah masing2. Karena rutinitas perkuliahan yang beda dengan masa SMA.
        Yang saya dan teman2 saya rasakan pada saat merantau adalah kita harus bisa. Karena sudah terlalu banyak yang kita tinggalkan, karena sudah terlalu banyak yang meninggalkan.Benar adanya, itu adalah suatu pengorbanan, benar adanya kata2 yang di share oleh beberapa kawan saya mengenai hakikat merantau yang dipopulerkan oleh sorang imam besar, Imam Syafii, kurang lebih begini kata-katanya: 

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, 'kan keruh menggenang.

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari diorbitnya tidak bergerak dan terus diam
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan
kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
Jika dibawa ke kota, berubah mahal menjadi incaran hartawan.

~ Imam Syafii (767-820 M) ~


"Pergilah merantau untuk mencari kemuliaan, karena dalam perjalanan itu ada lima kegunaan: yaitu menghilangkan kesedihan, mendapatkan penghidupan, mengagungkan jiwa, dan dapat bergaul dengan orang banyak."


Tinggalkanlah tempat kelahiranmu, engkau akan temui derajat mulia di tempat yang baru dan engkau bagaikan emas yang sudah teerangkat dari tempatnya.

Kesabaran adalah bumi. Kesadaran adalah matahari. Keberanian menjadi cakrawala, Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata".

 InsyaAllah kami sudah merasakan merantau, baik yang jauh maupun yang dekat jaraknya dengan peraduan, walaupun masih di negeri sendiri dan belum ke negeri orang.

InsyaAllah benar adanya kami mendapatkan pengganti dari kerabat dan kawan, kami bahkan mendapatkan sesuatu yang bernama keluarga, kalau itu terasa berlebih...saya lebih suka menyebutnya saudara tempat melepas dahaga, dahaga akan kerinduan pada orang tua, teman2 sepermainan, teman2 diskusi bersama, teman2 melakukan hal2 bodoh dan mungkin tak kan bisa kita lakukan kalau kita tidak merantau.

InsyaAllah kami sudah berlelah-lelah, menahan gempuran pertanyaan lulus kapan :p, gempuran perkuliahan, pengkaderan, dan sederet kesialan yang menimpa selama di rantau.
InsyaAllah sudah terlalu banyak yang kita korbankan, kita tinggalkan dan meninggalkan kita selama masa perantauan. 

InsyaAllah kami belum rusak karena diam tertahan, belum keruh karena lama menggenang.
InsyaAllah kami akan terus mengalir, mencari mangsa, melepaskan diri kami, terus bergerak dan terus menggali demi mendapatkan rasa manis, manis setelah berjuang.

Akhir kata, TERIMAKASIH Surabaya !!! Kota Jumawa nan Mempesona.

Terimakasih Surabaya "Sebuah laci kecil tempat menyimpan kenangan dan harapan". Viva Informatika  ! Viva TC 2008 ! #MaturSuwun !

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar